Jumat, 27 April 2012

Evaluasi Pembelajaran - Portofolio 1


Assessment of Teaching and Learning
Assessment of teaching and learning is the process of evaluating the quality and appropriateness of the learning process, including teacher performance and pedagogic approach. "the term ‘assessment’ refers to all those activities undertaken by teachers, and by their students in assessing themselves, which provide information to be used as feedback to modify the teaching and learning activities in which they are engaged.
Assessment of teaching and leaning can include assessment of how well the teacher performs as a teacher/learning facilitator, the appropriateness of pedagogic process and practices including the suitability of methods of assessing student progress and development. This is also referred to as evaluation of teaching (and learning).
We can differentiated assessment according to its purpose:
A.     Assessment for learning
§  comprises two phases—initial or diagnostic assessment and formative assessment
§  assessment can be based on a variety of information sources (e.g., portfolios, works in progress, teacher observation, conversation)
§  verbal or written feedback to the student is primarily descriptive and emphasizes strengths, identifies challenges, and points to next steps
§  as teachers check on understanding they adjust their instruction to keep students on track
§  no grades or scores are given - record-keeping is primarily anecdotal and descriptive
§  occurs throughout the learning process, from the outset of the course of study to the time of summative assessment
B.     Assessment as learning
§  begins as students become aware of the goals of instruction and the criteria for performance
§  involves goal-setting, monitoring progress, and reflecting on results
§  implies student ownership and responsibility for moving his or her thinking forward (metacognition)
§  occurs throughout the learning process
C.     Assessment of learning
§  assessment that is accompanied by a number or letter grade (summative)
§  compares one student’s achievement with standards
§  results can be communicated to the student and parents
§  occurs at the end of the learning unit
D.    Evaluation
§  judgment made on the basis of a student’s performance

Kesimpulan:
Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses untuk menilai dan mengukur kualitas dan keberhasilan suatu proses kegiatan pembelajaran, meliputi penampilan guru dan kemampuan mendidik dikelas. Evaluasi dijadikan bahan introspeksi dan umpan balik untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran dimasa mendatang.
Evaluasi pembelajaran memberikan masukan kepada seorang guru dalam berpenampilan dikelas sebagai fasilitator pembelajaran. Evaluasi juga dapat dijadikan suatu ukuran apakah metode pembelajaran yang digunakan telah sesuai dengan perkembangan peserta didik yang diinginkan.
Kita dapat membedakan evaluasi berdasarkan tujuannya yaitu:
·        evaluasi untuk pembelajaran: mengumpulkan informasi untuk dijadikan umpan balik bagi siswa, guru dapat mengcek apakah siswa sudah faham dengan materi pembelajaran, dan tidak ada skor yang diberikan kepada siswa.
·        evaluasi sebagai pembelajaran, menjadikan siswa mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan, mengawasi kegiatan dan proses pembelajaran
·        evaluasi dalam pembelajaran, mengetahui standar kompetensi yang telah dicapai siswa dan dilakukan tes, dan hasil tes dapat diberitahukan kepada orang tua siswa.
·         Evaluasi secara umum, mengetahui tingkat kemampuan dasar siswa

Komentar:
Evaluasi merupakan bagian dari pembelajaran. Evaluasi biasanya dilakukan setelah kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hasil evaluasi menentukan tindakan yang akan diambil oleh seorang guru terhadap muridnya. Lembaga sekolah seharusnya menetapkan standar nilai evalusi berdasarkan peraturan yang berlaku, agar pemerataan kemampuan peserta didik dapat tercapai.
Evaluasi tidak hanya menjadi masukan untuk guru yang mengajar, tetapi juga bagi lembaga atau individu yang berkaitan langsung dengan pendidikan. Bagi para orang tua evaluasi sangat penting karena dapat mengetahui tingkat kemampuan anak-anaknya dan dapat menjadi pertimbangan dalam mengambil tindakan untuk mendidik anak-anaknya yang diharapkan dapat meningkatkan prestasi akedemiknya. 

Peranana Psikologi dalam Melaksanakan Bimbingan Konseling


Peranan Psikologi dalam melaksanakan Bimbingan dan Konseling

Akhmad Sudrajat dalam Salahudin, Anas(2009:104) menyatakan bahwa bimbingan konseling merupakan bagian Integral dari pendidikan di Indonesia. Sebagai sebuah layan profesional tentunya kegiatan bimbingan dan konseling tidak dilaksanakan sembarangan, namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh, pengembangan layanan bimbingan dan konseling baik teori maupun prakteknya diharapkan dapat memberikan manfaat yang sangat besar , khususnya bagi klien.
Landasan dalam bimbingan dan konseling pada intinya merupakan fondasi yang harus kuat dan merupakan bagian dari factor pendukung yang harus diperhatikan, khususnya oleh konselor sebagai pelaku utama dari bimbingan dan konseling ini.
Secara umum terdrapat empat aspek pokok yang melandasi bimbingan dan konseling, yaitu:
  1. landasan filosofis
  2. landasan psikologis
  3. landasan social budaya
  4. landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi

untuk kepentingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang:
1)      motif dan motivasi
motif dan motovasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakan seseorang untuk berperilaku baik atau motif primer, yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak lahir. Motivasi berarti keadaan internal organisme baik manusia atau hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah (Gleitman,1986; Reber, 1988)
seorang konselor harus tahu apa motif dan otivasi yang dimiliki oleh  kliennya sehingga dia mengetahui arah perilaku dari kliennya tersebut.
2)      pembawaan dan lingkungan
factor pembawaan dan  lingkungan merupakan factor yang tak dapat dipisahkan dari kajian ini. Kedua factor tersebut merupakan factor yang sangat penting dalam menentukn perilaku individu.
Factor pembawaan merupakan factor yang dibawa individu sejak lahir dan mengandung factor potensial. Ada yang memiliki potensial tinggi dan ada juga yang rendah tergantung keturunan. Disinilah peran orang-orang disekelilingnya sangat diperlukan untuk membantu mengiptimalkan potensi yang dimiliki oleh individu tersebut. Tidak hanya pembawaan piskologis saja tetapi pembawaan fisiologis juga mempengaruhi mental dan kepribadian individu. Ada individu yang tidak percaya diri dengan kekurangn yang ada pada tubuhnya, hal ini menimbulkan dampak yang sangat besar bagi perkembangan mental individu dan diperlukan penanganan yang baik.
Sedangkan lingkungan menyangkut keadaan sekitar individu meliputi lingkungan keluarga, masyarakat dan lingkungan pertemanan. Seorang individu meskipun dia memilki potensi yang sangat tinggi tetapi jika tidak didukung dengan lingkungan yang mendukung perkembangan potensinya maka potensinya itu tidak akan berkembang secara optimal. Maka dalam pergaulan social, seorang individu hendaknya pintar untuk memilih mana yang baik dan yang tidak baik.
3)      perkembangan individu
perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (prenatal) hingga akhir hayatnya, diantaranya meliputi aspek psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan social.
Setiap individu memiliki fase perkembangan yang berbeda-beda tergantung factor-faktor  yang mempengaruhi seperti hormone dan lingkungan. Ada individu yang berkembang secara cepat tingkat intelegensi maupun fisik dan ada pila yang lambat. Beberapa teori mngemukakan bahwa perkembangan individu hampir sama dalam setiap jenjang seperti tahap sensori motor dan tahap praopersional, tetapi itu secara umum karena setiap individu memiliki ciri khas masing-masing dan tidak akan memiliki perkembangan yang sama.
Oleh karena itu dalam menjalankan tugasnya, konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu kliennya, sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan.
4)      Belajar
Belajar merupakan serangkaian kegiatan untuk mengetahui sesuatu, dan sekaligus konsep mendasar dalam psikologi.  Setiap orang yang hidup pasti belajar. Seseorang tidak dapat mempertahankan diri dan mengembangkan dirinya tanpa belajar. Inti dari belajar adalah mengusai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Untuk memahami kliennya seorang konselor harus mengetahui mengenai teori-teori belajar yang akan mempermudahnya untuk mendiagnosis kesulitan individu.
5)      Kepribadian
Berangkat dari penemuan Gordon menganai teori pengertian kepribadian, maka kepribadian merupakan organisasi dinamis dalam diri individu sebagai system psikofisik yang menentukan cara yang unik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kata kunci dari kepribadian adalah penyesuain diri. Yang dimaksud dengan unik yakni kualitas perilaku individu khas sehingga dapat diketahui individu tersebut berbeda dengan yang lainnya. Keunikan ini didukung oleh faktor psikofisiknya, misalnya struktur tubuhnya, hormone dan yang lainnya dan saling berpengaruh dan menentukan kualitas perilaku individu tersebut. Jadi seorang konelor harus tau kepribadian yang dimiliki oleh kliennya karena kepribadian menyangkut seluruh perilaku yang dilakukan oleh individu tersebut. Dengan mengetahui kepribadian kliennya akan sangat membentu konselor dalam melakukan tindakan pencegahan maupun tindakan konseling yang diambil dalam memecahkan masalah.
Dengan demikian, psikologi terlihat sangat dominant dalam memainkan perannya dalam bimbingan dan konseling terutama yang terkait dengan perilaku individu yang menjadi sasaran bimbingan dan konseling.

Referensi:
Syah, muhibbin.2002. psikologi belajar.Jakarta:Rajawali Pers
Salahudin,Anas.2009. bimbingan dan konseling. Bandung: Pustaka setia

Senin, 23 April 2012

Boscha - Makalah


1.      PENDAHULUAN
a.       Latar belakang
Sains merupakan materi yang memerlukan aplikasi nyata dan para mahasiswa khususnya harus mengetahui realita sains yang ada di lapangan, sehingga para mahasiswa tidak hanya mengetahui materi tetapi juga kenyataan di lapanan.oleh karena itu pembelajaran sains tidak hanya dilaksanakan di dalam kelas tetapi juga harus dilaksanakan ditempat yang menunjang proses pembelajaran tersebut.
Salah satu alternatifnya adalah dengan mengadakan kunjungan ke observatorium Bosscha, mengingat lokasinya masih berada di daerah Bandung. Selain itu juga observatorium ini memiliki perangkat tekhnologi yang menunjang. Latar belakang kunjungan ke observatorum Bosscha juga untuk menambah pengalaman para siswa sebagai calon pendidik fisika khususnya yang akan mengajarkan materi yang ada hubungannya dengan optik, bumi antariksa, astronomi dan lainnya.
b.      Tujuan dan fungsi kunjungan lapangan
Tujuan kunjungan ke observatorium Bosscha adalah untuk mengetahui lokasi observatorium Bosscha dan juga untuk mengatahui sejarah observatorium Bosscha dan menambah pengetahuan para mahasiswa mengenai perangkat teknologi      yang ada disana. Para mahasiswa juga dapat menyelesaikan tugas yang diberikan mengenai mata kuliah yang diberikan, dengan kunjungan kesana mereka juga diharapkan memiliki wawasan yang mendalam mengenai observatorium Bosscha.
c.       Manfaat kunjungan lapangan
Manfaat kunjungan kesana adalah para mahasiswa mendapatkan pengalaman dalam hal cara pengoperasian teropong, serta bagaimana penelitian yang dilakukan oleh para astonom. Para mahasiswa juga dapat melepaskan kepenatan dari segala aktivitas yang ada, jadi selain mereka berekreasi mereka juga mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Dengan melakukan kunjungan ini mereka dapat merasakan kenyamanan belajar yang langsung berinteraksi dengan kehidupan nyata.
d.      Peserta kunjungan lapangan
Peserta kunjungan ke observatorium Bosscha ini terdiri dari mahasiswa prodi pendidikan fisika semester 2,semester 4, dan semester  6,ditambah mahasiswa semester 8 yang mengambil mata kuliah belajar dan pembelajaran fisika, yang berjumlah 200 orang sesuai dengan kuota kunjungan.
2.      Sejarah singkat Bosscha
3.      Jenis perangkat teknologi yang ada di observatorium Bosscha
Jenis perangkat teknologi yang ada di Observatorium Bosscha antara lain:
·         Teropong Bintang zeis
·         Teleskop Bamberg
·         Teleskop Schmidt-Bimasakti
·         Goto
·         Unitron
.
4.      Teropong bintang Zeis
a.       Cara pengoperasian:
ü  Menentukan terlebih dahulu obyek yang akan diamati,
ü  Mengarahkan ujung teleskop pada obyek pengamatan,
ü  Konstruksi bangunan kubah dapat dibuka selebar 3 meter dan kubah dapat diputar kesegala penjuru  arah, disesuaikan dengan letak dari obyek pengamatan,
ü  Lantai teleskop dapat dinaikkan dan diturunkan dengan daya listrik 10000 watt, berfungsi untuk memudahkan pengamatan benda langit  yang terlalu rendah ataupun benda langit yang cukup tinggi.

b.      Jenis pengamatan yang pernah dilakukan
·         Pengamatan astrometri untuk penelitian orbit bintang ganda visual,
·         Pengamatan astrometri untuk penelitian gerak diri bintang dalam gugus bintang,
·         Pengamatan astrometri untuk keperluan pengukuran paralaks bintang untuk penelitian jarak dan sistem kegandaan dari bintang-bintang yang berpasangan,
·         Imaging, pengamatan citra detail komet  terang, kawah permukaan bulan, oposisi planet mars, oposisi planet saturnus, dan oposisi planet jupiter.


c.       Hasil yang pernah didapat
Hasil yang pernah didapat diantaranya adalah adanya koleksi sekitar 10000 data pengamatan bintang ganda visual yang diperoleh dari pengamatan teleskop Zeiss.

5.      Hasil yang sudah dilakukan dan prestasi yang pernah diraih dalam pengamatan benda angkasa oleh observatorium Bosscha
Hasil yang pernah didapat yang mendobrak ilmu pengetahuan adalah menemukan bentuk galaksi bima sakti yaitu bentuknya bergelombang. Dan hasil-hasil lainnya adalah:
·         Mempublikasikan karya ilmiah tentang bintang  ganda visul, struktur galaksi , dan bintang variabel.
·         Suvey lengan galaksi bima sakti
·         Penelitian bintang ganda
·         Fotometri bintang variabel,
·         Pengamatan pelanet mars,
·         Pengamatan komet halley,
·         Katakris variabel kalisme,
·         Survey daerah pembentukan bintang.



6.      Hasil pertemuan di aula
Bumi yang kita huni sekarang ini merupakan bumi yang berasal dari satu unsur meburut teori bigbang. Bumi kita ini merupakan bagian dari alam semesta yang amat luas, itulah yang menjadi tantagan ilmu pemgetahuan. Para astronom berusaha untuk menyelidiki rahasia alam ini dengan segala upaya dan keterbatasan manusia. Sejak berabad abad lalu pengeahuan tentang alam semesta telah dilakukan dan menemukan inovasi – inovasi yang menyumbang sangat besar bagi ilmu pengetahuan.
Beruntunglah negara kita memiliki perangkat teknologi tertua yang didirikan oleh seorang yang dermawan K.A.R Bosscha yang sangat bermanfaat bagi penelitian sains khususnya untuk mengetahui alam semesta ini. Perjalanan yang sangat panjang dalam mendirikan bangunan ini dan daerah Lembang Bandung merupakan daerah yang dianggap paling cocok untuk melakukan pengamatan, disamping lokasinya yang mencukupi karena berada dalam ketinggian tertentu dan udara pada waktu itu jauh dari polusi yang dapat mengganggu pengamatan. Polusi dapat menyebabkan pengamatan terhadap bintang yang memiliki sinar kurang terang menjadi tidak terlihat. Tetapi pada kenyataannya sekarang ini ada isu-isu observatorium Bosscha akan dipindahkan, karena daerah Lembang sudah penuh dengan polusi dan ada sejumlah oknum yang akan menggusur observatorium ini untuk dijadikan pemukiman penduduk.
Dalam membangun observatorium ini para pendirinya langsunng memesan perangkat seperti teropong ini langsung dari Jerman. Alangkah sulitnya menempuh perjalanan jauh sampai ke daerah Lembang. Kemudian teropong dirakit di sini agar memudahkan pembawaan teropong dari negara asalnya.
Observatorium Bosscha sangat memberikan sumbangsi yang sangat besar bagi ilmu pengetahuan khususnya mengenai astronomi. Beberapa penelitian dilakuan dengan menggunakan teropong Bintang Zeis, dan menghasilkan banyak sekali hasil.
7.      Observatorium Bosscha kaitannya dan relevansi dengan kurikulum di sekolah khususnya kurikulum SMP
8.      Simpulan

Ahlak Tasawuf


BAB II
PEMBAHASAN

A.    CIRI- CIRI AKHLAK
1.      Pangkalnya Disengaja
Pangkal yang disengaja artinya bahwa setiap yang dilakukan oleh manusia yang kaitannya dengan akhlak, merupakan perilaku yang disengaja atas kesadaran dirinya.

Terdapat dalam dalil al-quran dan hadits:
·         Dalil Al-quran terdapat dalam QS.3:159
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

·         Dalam hadits riwayat Ahmad
“barang siapa menikah dengan mahar dan berniat untuk tidak membayarnya maka ia pezina, barang siapa meminjam dan berniat untuk tidaak membayarnya maka ia pencuri”



Akhlak yang pangkalnya disengaja terbagi kedalam tiga bagian yaitu:
a.      Niat
Niat itu menjadi pijakan untuk melangkah dalam berbuat sesuatu. Kekuatan niat itu sangat menentukan kekuatan langkah berikutnya. Karena baik buruknya seseorang tergantung niatnya.
b.      Kehendak
Kehendak muncul karena ada keinginan-keinginan yang dirasakan kemudian bimbang dan mempertimbangkannya dan berikutnya satu keinginan memenangkan keinginan lainnya. Inilah yang disebut dengan kehendak. Setiap keinginan itu mengikuti keadaan jiwanya. Keadaan jiwa itu disebut alam keinginan.
c.       Kekuatan kehendak
Kehendak merupakan penggerak segala perbuatan manusia , membangunkan kekuatan sifat-sifat manusia. Kehendk menggerakan kemahiran menggunakan alat, kemahiran bekerja, kekuatan berfikir, menunaikan kewajiban. Kehendak itu bisa menjadi pendorong berbuat dan bisa pula menjadi penolak berbuat, sehingga menjadi pangkal segala sifat perilaku manusia.

Penyakit kehendak ada 2 yaitu:
1.      Lemahnya kehendak. Kehendak menunaikan kewajiban, tetapi terganggu rasa malas hingga kewajibannya tidak dilaksanakan.
2.      Arar kehendak. Kehendaknya sudah kuat tetapi diarahkan kepada perbuatan yang tercela, sehingga perbuatan baiknya menjadi rusak.

Adapun kehendak yang rusak dapat diobati dengan:
1.      Memperkuat dengan latihan-latihan yang berat dalam hal perrbuatan yang dikehendaki.
2.      Jika sudah berazam berbuat kebaikan, maka harus dipaksakan untuk melakukannya.
3.      Memperrkenalkan kepada jiwa perrbuatan-perrbuatan baik, agar kebaikan dapat mengepung segala hal sikap keburukan.

Mengenai kebebasan berkehendak ada dua macam yaitu ada wilayah yang membebaskan untuk bekehendak dan ada wilayah keterpaksaan dalam berkehendak. Mengenai aspek paksaan memiliki dua factor yaitu factor luar dan dalam. Factor dalam inilah yang diwariskan leluhurnya yang membentuk kehendak tertentu. Factor luar ialah kekuatan pendidikan dan lingkungan social tempat ia hidup yang membuat kehendak tertentu pula.

Pendorong Berbuat
Pendorong berbuat memiliki arti yaitu:
1.      Sesuatu yang mendorong kita untuk berbuat, misalnya seorang memukul anaknya, itu berarti pendorongnya adalah rasa marah, marahnya itu mendorong untuk memukul anaknya, ini untuk kepuasan diri.
2.      Sesuatu yang menarik kita untuk berbuat, misalnya seorang memukul anaknya, itu berarti penarikannya adalah rasa jera. Ia memukul anaknyaanaknya itu agar menariknya pada rasa jera dari berbuat suatu kesalahan dan ini untuk kepentingan yang bersangkutan.demikian juga halnya dengan seorang dokter yang mengobati pasien pendorongnya adalah:
a.       Agar pasiennya sembuh, ini untuk kepentingsn pasien
b.      Agar mendapatkan uang, ini untuk kepentingan pribadinya.

·         Prosesnya Terbiasa
Suatu kebiasaan yang dilakukan, kemudian dilakukan lagi dan dilakukan lagi secara berlanjut disebut dengan kebiasaan. Mayoritas pekerjaan manusia merupakan wujud dari kebiasaan ini seperti cara belajar, berjalan, berlari, berpakaian, berbicara, berpenampilan dll.

 Kebiasaan dibentuk oleh tiga hal, yaitu:
a.       Adanya rasa menyukai pada perbuatan itu
b.      Adany wujud perbuatan itu
c.       Adanya pengulangan yang berlanjut pada keduanya

Proses Kebiasaan Ada Empat Macam  Yaitu:
Pertama, kebiasaan dan fisik
Suatu perangkat yang sangat halus di tubuh, yang mengubungkan otak dengan alat perasa, peraba, penglihatan, penciuman, dan sebagainya, itu disebut uraf saraf. Segala sesuatu yang berkenaan dengan urat syaraf yang memberikan sinyal ke otak.
Kedua, sifat kebiasaan
Kebiasaan itu memiliki dua macam sifat yaitu:
1.      Memudahkan berbuat , perbuatan yang sudah dilakukan dengan kebiasaan maka dalam melakukannya pun tidak akan terasa berat.
2.      Menghemat waktu dan perhatian, karena perbuatan tersebut sudah dilakukan dan menjadi kebiasaan maka dalam melakukannya bisa diakukan dalam jangka waktu yang singkat.
Ketiga. Kekuatan kebiasaan
Kebiasaan berfikir danbertindak sesorang di masa lalu akan mempengaruhi berfikir seseorang dimasa yang akan dating, baik itu perbuatan yang baik atau perbuatan buruk di massa lalu akan mempengaruhi pola kebiasaan seseorang dimasa yang akan datang.
Keempat, mengubah kebiasaan
Untuk mengubah kebiasaan harus ada keinginan pada sesuatu, memulai melakukannya, kemudian dilatihkan, dibiaskan melakukannya berkali-kali.

Untuk mengubah kebiasaan buruk dapat diperhatikan hal-hal berikut ini:
a.       Berniat yang kuat untuk mengubahnyadengan melakukan hal yang sebaiknya.
b.      Mulai membiasakan hal yang baru dan konsisten dengan kebiasaan itu.
·                     Eksistensinya mewarnai
Eksistensi akhlak atau keberadaan akhlak senantiasa mewarnai setiap gerak langkah tindakan sesorang atau sekelompok orang. Firman allah dalam surah Al-baqarah (2:138)
“Shibghah Allah Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.
            Berlandaskan aqidah yang benar, maka sikap yang ihsan itu mewarnai perbuatan kepada tuhan dalam beribadah dan berkarya dalam berkhalifah. Terbiasa berbuat yang terbaik.
a.       Ihsan  dalam beribadah: bersyahadat, bersalat, berzakat, berpuasa, berhaji, berdzikir, berdoa, bermunajat dan bertaubat.
b.      Ihsan dalam berkhilafah, ihsan dalam menjalankan profesi:
Ø  Sebagi akademis, professional, teknisi dan tukang
Ø  Profesi, ahli kode etik, jenjang pendidikan organisasi profesi, khazanah, teori keilmuwan. Akhlak itu mewarnai segala bentuk ibadah dan khilafah.


B.     ARAH AKHLAK

Arah akhlak itu berarti akhlak itu arahnya ditunjukan kepada siapa? Akhlak itu diarahkan kepada dua hal yaitu akhhlak kepada khalik dan arah akhlak kepada mahluk.

1.      Akhlak kepada Allah
Akhlak  manusia tidak terlepas dari statusnya sebagai seorang hamba tuhan atau sebagai mahluk tuhan yang senantiasa harus tunduk dan patuh untuk menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Akhlak ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Kaitannya dengan sang khalik, manusia dituntut untuk mempunyai akhlak yang baik terhadap sang khalik sebagai bentuk pengabdiannya kepada tuhannya. akhlak manusia terhadap tuhan mempunyai hubungan yang vertical yakni manusia sendiri yang berinteraksi dan berurusan langsung dengan tuhan.Akhlak manusia terhadap tuhannya telah dicontohkan oleh rasul Muhammad S.A.W.
Hubungannya dengan akhlak terhadap khalik islam sangat mementingkan akhlak. Yang perlu diingat bahwa tauhid sebagai sisi pokok/inti islam yang memang seharusnya kita utamakan, namun tidak berarti mengabaikan perkara penyempurnaannya. Dan akhlak mempunyai hubungan yang erat. Tauhid merupakan realisasi akhlak seorang hamba terhadap Allah dan ini merupakan pokok inti akhlak seorang hamba. Seorang yang bertauhid dan baik akhlaknya berarti ia adalah sebaik-baik manusia. Semakin sempurna tauhid seseorang maka semakin baik akhlaknya, dan sebaliknya bila seorang muwahhid memiliki akhlak yang buruk berarti lemah tauhidnya.
Muhammad diutus Allah dengan membawa petunjuk sekaligus rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana Allah mengutusnya dengan ilmu, bukti-bukti rasional, dan bukti-bukti pendengaran. Allah juga mengutusnya dengan membawa kebaikan untuk umat manusia, kasih sayang dan rahmat bagi mereka tanpa mengharap imbalan, dan sabar dalam menghadapi cercaan. Oleh karena itu, Allah membekalinya dengan ilmu, kemuliaan serta sifat penyantun: memberi bimbingan dan berbuat baik kepada semua manusia. Dia mengajar, memberi petunjuk, memperbaiki hati, dan menuntun manusia kepada jalan kebaikan di dunia dan akhirat tanpa mengharap imbalan apapun. Ini merupakan sifat semua rasul. Inilah jalan bagi siapa saja yang mau mengikutinya.
Akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR Tirmidzi, dari abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Disahihkan Al Bani dalam Ash Shahihah No.284 dan 751). Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdillah bin amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma disebutkan : “Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah yang terbaik akhlaknya.”
Akhlak terhadap Allah antara lain:
1.      Senantiasa meng-Esa kan-Nya dalam setiap tindakan hal ini tercantum dalam surat An-Nisa ayat 116
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.”
2.      Senantiasa Patuh Pada Petunjuk-Nya
Berkaitan dengan status manusia sebagai mahluk, maka setiap tingkah lakunya harus berdasar kepada petunjuknya. Terdapat dalam surat An-Nur ayat 52
“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan”


3.      Senantiasa Mencontoh Sifat-Sifat-Nya
Agama memerintahkan kita untuk menjalankan risalahnya. Perintah ini dilaksanakan dengan  penuh semangat, sampai kita lupa bahwa Allah SWT yang memerintahkan itu tidak menghendaki orang memiliki paham yang sama.
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian[421] terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu[422], Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu(Al-Maidah ayat 48).”
4.      Senantiasa Memohon Kepada-Nya
Ø  Memohon ampunan (taubat)
QS. An Nur ayat 31
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
Ø  Memohon karunia
Allah sangat menyukai hamba yang meminta pertolongan sebagimana tercantum dalam al-quran
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina."(Al-Mu’min:60)
“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas[970]. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami”(Al-Anbiya:90
Ø  Menyampaikan keluhan(bermunajat)
Dalam Al-quran telah digariskan bahwa manusia merupakan mahluk yang suka mengeluh.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”(Al-Balad:4)
Sejak lahir sampai manusia mengalami fase menuju kedewasaan bahkan sampai meninggal pun manusia pasti mengalami kesulitan yang dialami dalam kehidupannya. Orang yang beriman, keimananya akan melahirkan sikap optimis karena ia yakin bahwa apa yang ada dalam genggaman ilahi jauh lebih dapat diandalkan dari pada apa yang ada didalam genggamannya. Boleh saja mengeluh apalagi jika ditunjukan kepada Allah sambil berusaha, saat itu keluhan menjadi tanda optimisme.
2.      Akhlak Kepada Mahluk           
Ketika manusia menghadap mahluk Allah SWT maka posisi manusia disini adalah  sebagai khalifah Allah di muka bumi ini, banyak cara yang dilakukan manusia untuk berinteraksi dengan mahluk sesama manusia.Berkaitan dengan arah akhlak terhadap sesama mahluk, manusia diarahkan untuk senantiasa memiliki akhlak yang baik terhadap sesama manusia. Akhlak ini tidak semerta- merta tumbuh dalam hati manusia tetapi akhlak ini tumbuh melalui pendidikan. Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul didalam masyarakat. Kesusilaan/moral selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat. Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendiri–sendiri dan terpisah satu sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling membutuhkan dan saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut masyarakat.
Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan norma- norma kesusilaan yang berlaku. Selain itu dalam hal akhlak kepada sesame manhluk manusia juga harus memiliki sikap yang baik seperti menyambung tali persaudaraan, memberi sesuatu kepada orang yang enggan memberi, memaafkan orang yang membuat kesalahan. Selain itu kita juga wajib dan dianjurkan untuk berbakti kepada orang tua, menyambung tali kerabat, berbuat baik kepada tetangga, berbuat baik kepada anak-anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, dan bersikap lembut kepada sahaya.
Perbuatan baik kepada sesama mahluk telah dicontohkan oleh rasul, hal ini terdapat dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu seorang sahabat yang mulia menyatakan : “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik budi pekertinya.” (HR.Bukhari dan Muslim). Dalam hadits lain anas memuji beliau shalallahu ‘alahi wasallam : “Belum pernah saya menyentuh sutra yang tebal atau tipis lebih halus dari tangan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Saya juga belum pernah mencium bau yang lebih wangi dari bau rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Selama sepuluh tahun saya melayani rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, belum pernah saya dibentak atau ditegur perbuatan saya : mengapa engkau berbuat ini ? atau mengapa engkau tidak mengerjakan itu ?” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari hadits diatas tergambar betapa mulianya akhlak yang dicontohkan oleh nabi Muhammad, maka sepantasnya lah manusia menjalankan sunah rasul yang  mulia demi terwujudnya perilaku yang aman dan damai sesuai dengan syariat islam. Kekuatan akhlak lahir melalui proses panjang yang memerlukan kesediaan untuk sentiasa memberi komitmen dengan nilai-nilai Islam. Seorang ulama menjelaskan thariqah (jalan) untuk membina akhlak islami adalah dengan kemahuan untuk melaksanakan latihan (tadribat) dan pendidikan (tarbiyah). Setiap muslim memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi baik atau buruk, masalahnya adalah sejauh mana usaha kita untuk mendisiplinkan diri dengan nilai-nilai dan amalan Islam bagi melahirkan muslim yang berakhlak ampuh. Malangnya keampuhan akhlak inilah yang sering dilupakan. Malah kian rapuh sehingga hilangnya jatidiri muslim hakiki. Justru menjadi puncak lunturnya sinar Islam pada penghujung zaman. Gejala keruntuhan akhlak yang berlegar di sekeliling kita seperti zina hati, mata, lisan dan seumpamanya meruntun jiwa kita selaku pendokong agama. Keruntuhan yang tidak dikawal pada satu tahap yang minimal membawa manusia untuk menuruti hawa nafsu, dan melupakan tuhan maha Pencipta Yang Maha Esa.
Jadi dapat dipahami bahwa akhlak yang paling baik memiliki keutamaan yang tinggi. Karena itu sudah sepantasnya setiap muslimah mengambil akhlak yang baik sebagai perhiasannya. Yang perlu diingat bahwa ukuran baik atau buruk suatu akhlak bukan ditimbang menurut selera individu, bukan pula hitam putih akhlak itu menurut ukuran adat yang dibuat manusia. Karena boleh jadi, yang dianggap baik oleh adat bernilai jelek menurut timbangan syari’at atau sebaliknya.
A.    Akhlak Terhadap Manusia
  1. Akhlak Terhadap Diri Sendiri
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”(Al- Isra ayat 7)
Ø  Kerja keras, memaksimalkan kemampuan diri untuk mencapai suatu tujuan.
Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmusesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan.(Al-An’am:135)
Ø  Hemat, berarti hidup sederhana, teliti menggunakan sesuatu sesuai dengan kebutuhannya. Nabi bersabda “tempat yang jelek yang suka diisi manusia adalah perut yang terlalu penuh”.
  1. Akhlak Terhadap Diri Orang Lain
QS.An-Nisa 4:86
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)[327]. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.”
Ø  Akhlak Terhadap Orang Tua
Orang tua yakni ibu dan bapak, atau walidain, abawain. Pembicaraan akhlak tentang orang tua ini dibatasi kepada tanggung jawab orang tua, kewajiban anak, dan realisasi berbuat baik.
§  Tanggungjawab orang tua
Ibu dan bapak berperan sebagai orang tua. Mereka memainkan perannya itu denhgan membesarkan anak-anaknya hingga mencapai kedewasaan. Membesarkan anak itu merupakan tanggung jawab sebgsi orang tua.
Tangggung jawab yang kompleks itu terbagi dalam 2 hal:
o   Tanggungjawab yang bersifat materi
o   Tangggungjawab bersifat non materi

§  Kewajiban anak
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”(Al-Isra’ 17:23)
Ø  Akhlak Terhadap Saudara
Saudara dalam hal ini adalah saudara kandung, kakak,adik, paman, bibi merke sering disebut dengan zawil qurba atau zawil arham, tentang ini ada dua hal yakni bersilaturahmi atau mempererat tali persaudaraan, yang kedua yaitu memberi bantuan,kerabat berada dalam posisi yang kedua dalam hal berinfak.
Ø  Akhlak terhadap tetangga
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh[294], dan teman sejawat, ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,”(An-Nisa ayat 36)
Ø  Akhlak sesama muslim
Pada hakikatnya muslim itu saling menyelamatkan antar sesamanya, ada ikatan keluarga sesame muslim dan tidak saling mengganggu antar mereka. Nabi Muhammad SAW bersabda:
“muslim itu adalah orang yang tidak perrnah mengganggu sesamanya dengan ucapan maupun dengan tindakannya(H.R Mutafak alaih)
Akhlak terhadap sesama muslim diantaranya adalah:
§  Setia kawan
§  Menunaikan hak-haknya
Ø  Akhlak terhadap kaum lemah
Rasulullah bersabda:
“sesungguhnya Allah memfardukan atas orang-orang kaya muslim, sekedar dalam hartanya sehingga menutupi kebutuhan kaum fakir miskin. Kemelaratan orang-orang  miskin adalah karena ulah orang-orang kaya dikalangan mereka ingatlah, Allah akan menghisab mereka dengan hisaban yang keras dan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih”(hadits dari Ali bin Abi Thalib)
B.     Akhlak Terhadap Non Manusia
  1. Memelihara Kelestarian Alam
QS.Ar-Rum ayat 41:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). “
  1. Menyayangi hewan
QS. An-Nahl ayat 5-9
“Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. . Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal[820] dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).”
  1. Merawat Tumbuhan
Lingkungan alam yang subur merupakan karunia dari Allah SWT sehingga keasriannya dapat memberikan rasa senang. Dengan demikian perawatan yang baik terhadap plora akan sangat berguna untuk kehidupan manusia. Gerakan reboisasi tanaman dan pelestarian lingkungan akan sangat memberikan pengaruh besar bagi kelestarian bumi yang kita huni.