Senin, 23 April 2012

Ahlak Tasawuf


BAB II
PEMBAHASAN

A.    CIRI- CIRI AKHLAK
1.      Pangkalnya Disengaja
Pangkal yang disengaja artinya bahwa setiap yang dilakukan oleh manusia yang kaitannya dengan akhlak, merupakan perilaku yang disengaja atas kesadaran dirinya.

Terdapat dalam dalil al-quran dan hadits:
·         Dalil Al-quran terdapat dalam QS.3:159
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

·         Dalam hadits riwayat Ahmad
barang siapa menikah dengan mahar dan berniat untuk tidak membayarnya maka ia pezina, barang siapa meminjam dan berniat untuk tidaak membayarnya maka ia pencuri”



Akhlak yang pangkalnya disengaja terbagi kedalam tiga bagian yaitu:
a.      Niat
Niat itu menjadi pijakan untuk melangkah dalam berbuat sesuatu. Kekuatan niat itu sangat menentukan kekuatan langkah berikutnya. Karena baik buruknya seseorang tergantung niatnya.
b.      Kehendak
Kehendak muncul karena ada keinginan-keinginan yang dirasakan kemudian bimbang dan mempertimbangkannya dan berikutnya satu keinginan memenangkan keinginan lainnya. Inilah yang disebut dengan kehendak. Setiap keinginan itu mengikuti keadaan jiwanya. Keadaan jiwa itu disebut alam keinginan.
c.       Kekuatan kehendak
Kehendak merupakan penggerak segala perbuatan manusia , membangunkan kekuatan sifat-sifat manusia. Kehendk menggerakan kemahiran menggunakan alat, kemahiran bekerja, kekuatan berfikir, menunaikan kewajiban. Kehendak itu bisa menjadi pendorong berbuat dan bisa pula menjadi penolak berbuat, sehingga menjadi pangkal segala sifat perilaku manusia.

Penyakit kehendak ada 2 yaitu:
1.      Lemahnya kehendak. Kehendak menunaikan kewajiban, tetapi terganggu rasa malas hingga kewajibannya tidak dilaksanakan.
2.      Arar kehendak. Kehendaknya sudah kuat tetapi diarahkan kepada perbuatan yang tercela, sehingga perbuatan baiknya menjadi rusak.

Adapun kehendak yang rusak dapat diobati dengan:
1.      Memperkuat dengan latihan-latihan yang berat dalam hal perrbuatan yang dikehendaki.
2.      Jika sudah berazam berbuat kebaikan, maka harus dipaksakan untuk melakukannya.
3.      Memperrkenalkan kepada jiwa perrbuatan-perrbuatan baik, agar kebaikan dapat mengepung segala hal sikap keburukan.

Mengenai kebebasan berkehendak ada dua macam yaitu ada wilayah yang membebaskan untuk bekehendak dan ada wilayah keterpaksaan dalam berkehendak. Mengenai aspek paksaan memiliki dua factor yaitu factor luar dan dalam. Factor dalam inilah yang diwariskan leluhurnya yang membentuk kehendak tertentu. Factor luar ialah kekuatan pendidikan dan lingkungan social tempat ia hidup yang membuat kehendak tertentu pula.

Pendorong Berbuat
Pendorong berbuat memiliki arti yaitu:
1.      Sesuatu yang mendorong kita untuk berbuat, misalnya seorang memukul anaknya, itu berarti pendorongnya adalah rasa marah, marahnya itu mendorong untuk memukul anaknya, ini untuk kepuasan diri.
2.      Sesuatu yang menarik kita untuk berbuat, misalnya seorang memukul anaknya, itu berarti penarikannya adalah rasa jera. Ia memukul anaknyaanaknya itu agar menariknya pada rasa jera dari berbuat suatu kesalahan dan ini untuk kepentingan yang bersangkutan.demikian juga halnya dengan seorang dokter yang mengobati pasien pendorongnya adalah:
a.       Agar pasiennya sembuh, ini untuk kepentingsn pasien
b.      Agar mendapatkan uang, ini untuk kepentingan pribadinya.

·         Prosesnya Terbiasa
Suatu kebiasaan yang dilakukan, kemudian dilakukan lagi dan dilakukan lagi secara berlanjut disebut dengan kebiasaan. Mayoritas pekerjaan manusia merupakan wujud dari kebiasaan ini seperti cara belajar, berjalan, berlari, berpakaian, berbicara, berpenampilan dll.

 Kebiasaan dibentuk oleh tiga hal, yaitu:
a.       Adanya rasa menyukai pada perbuatan itu
b.      Adany wujud perbuatan itu
c.       Adanya pengulangan yang berlanjut pada keduanya

Proses Kebiasaan Ada Empat Macam  Yaitu:
Pertama, kebiasaan dan fisik
Suatu perangkat yang sangat halus di tubuh, yang mengubungkan otak dengan alat perasa, peraba, penglihatan, penciuman, dan sebagainya, itu disebut uraf saraf. Segala sesuatu yang berkenaan dengan urat syaraf yang memberikan sinyal ke otak.
Kedua, sifat kebiasaan
Kebiasaan itu memiliki dua macam sifat yaitu:
1.      Memudahkan berbuat , perbuatan yang sudah dilakukan dengan kebiasaan maka dalam melakukannya pun tidak akan terasa berat.
2.      Menghemat waktu dan perhatian, karena perbuatan tersebut sudah dilakukan dan menjadi kebiasaan maka dalam melakukannya bisa diakukan dalam jangka waktu yang singkat.
Ketiga. Kekuatan kebiasaan
Kebiasaan berfikir danbertindak sesorang di masa lalu akan mempengaruhi berfikir seseorang dimasa yang akan dating, baik itu perbuatan yang baik atau perbuatan buruk di massa lalu akan mempengaruhi pola kebiasaan seseorang dimasa yang akan datang.
Keempat, mengubah kebiasaan
Untuk mengubah kebiasaan harus ada keinginan pada sesuatu, memulai melakukannya, kemudian dilatihkan, dibiaskan melakukannya berkali-kali.

Untuk mengubah kebiasaan buruk dapat diperhatikan hal-hal berikut ini:
a.       Berniat yang kuat untuk mengubahnyadengan melakukan hal yang sebaiknya.
b.      Mulai membiasakan hal yang baru dan konsisten dengan kebiasaan itu.
·                     Eksistensinya mewarnai
Eksistensi akhlak atau keberadaan akhlak senantiasa mewarnai setiap gerak langkah tindakan sesorang atau sekelompok orang. Firman allah dalam surah Al-baqarah (2:138)
Shibghah Allah Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.
            Berlandaskan aqidah yang benar, maka sikap yang ihsan itu mewarnai perbuatan kepada tuhan dalam beribadah dan berkarya dalam berkhalifah. Terbiasa berbuat yang terbaik.
a.       Ihsan  dalam beribadah: bersyahadat, bersalat, berzakat, berpuasa, berhaji, berdzikir, berdoa, bermunajat dan bertaubat.
b.      Ihsan dalam berkhilafah, ihsan dalam menjalankan profesi:
Ø  Sebagi akademis, professional, teknisi dan tukang
Ø  Profesi, ahli kode etik, jenjang pendidikan organisasi profesi, khazanah, teori keilmuwan. Akhlak itu mewarnai segala bentuk ibadah dan khilafah.


B.     ARAH AKHLAK

Arah akhlak itu berarti akhlak itu arahnya ditunjukan kepada siapa? Akhlak itu diarahkan kepada dua hal yaitu akhhlak kepada khalik dan arah akhlak kepada mahluk.

1.      Akhlak kepada Allah
Akhlak  manusia tidak terlepas dari statusnya sebagai seorang hamba tuhan atau sebagai mahluk tuhan yang senantiasa harus tunduk dan patuh untuk menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Akhlak ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Kaitannya dengan sang khalik, manusia dituntut untuk mempunyai akhlak yang baik terhadap sang khalik sebagai bentuk pengabdiannya kepada tuhannya. akhlak manusia terhadap tuhan mempunyai hubungan yang vertical yakni manusia sendiri yang berinteraksi dan berurusan langsung dengan tuhan.Akhlak manusia terhadap tuhannya telah dicontohkan oleh rasul Muhammad S.A.W.
Hubungannya dengan akhlak terhadap khalik islam sangat mementingkan akhlak. Yang perlu diingat bahwa tauhid sebagai sisi pokok/inti islam yang memang seharusnya kita utamakan, namun tidak berarti mengabaikan perkara penyempurnaannya. Dan akhlak mempunyai hubungan yang erat. Tauhid merupakan realisasi akhlak seorang hamba terhadap Allah dan ini merupakan pokok inti akhlak seorang hamba. Seorang yang bertauhid dan baik akhlaknya berarti ia adalah sebaik-baik manusia. Semakin sempurna tauhid seseorang maka semakin baik akhlaknya, dan sebaliknya bila seorang muwahhid memiliki akhlak yang buruk berarti lemah tauhidnya.
Muhammad diutus Allah dengan membawa petunjuk sekaligus rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana Allah mengutusnya dengan ilmu, bukti-bukti rasional, dan bukti-bukti pendengaran. Allah juga mengutusnya dengan membawa kebaikan untuk umat manusia, kasih sayang dan rahmat bagi mereka tanpa mengharap imbalan, dan sabar dalam menghadapi cercaan. Oleh karena itu, Allah membekalinya dengan ilmu, kemuliaan serta sifat penyantun: memberi bimbingan dan berbuat baik kepada semua manusia. Dia mengajar, memberi petunjuk, memperbaiki hati, dan menuntun manusia kepada jalan kebaikan di dunia dan akhirat tanpa mengharap imbalan apapun. Ini merupakan sifat semua rasul. Inilah jalan bagi siapa saja yang mau mengikutinya.
Akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR Tirmidzi, dari abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Disahihkan Al Bani dalam Ash Shahihah No.284 dan 751). Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdillah bin amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma disebutkan : “Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah yang terbaik akhlaknya.”
Akhlak terhadap Allah antara lain:
1.      Senantiasa meng-Esa kan-Nya dalam setiap tindakan hal ini tercantum dalam surat An-Nisa ayat 116
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.”
2.      Senantiasa Patuh Pada Petunjuk-Nya
Berkaitan dengan status manusia sebagai mahluk, maka setiap tingkah lakunya harus berdasar kepada petunjuknya. Terdapat dalam surat An-Nur ayat 52
“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan


3.      Senantiasa Mencontoh Sifat-Sifat-Nya
Agama memerintahkan kita untuk menjalankan risalahnya. Perintah ini dilaksanakan dengan  penuh semangat, sampai kita lupa bahwa Allah SWT yang memerintahkan itu tidak menghendaki orang memiliki paham yang sama.
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian[421] terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu[422], Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu(Al-Maidah ayat 48).”
4.      Senantiasa Memohon Kepada-Nya
Ø  Memohon ampunan (taubat)
QS. An Nur ayat 31
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
Ø  Memohon karunia
Allah sangat menyukai hamba yang meminta pertolongan sebagimana tercantum dalam al-quran
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina."(Al-Mu’min:60)
“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas[970]. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami”(Al-Anbiya:90
Ø  Menyampaikan keluhan(bermunajat)
Dalam Al-quran telah digariskan bahwa manusia merupakan mahluk yang suka mengeluh.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”(Al-Balad:4)
Sejak lahir sampai manusia mengalami fase menuju kedewasaan bahkan sampai meninggal pun manusia pasti mengalami kesulitan yang dialami dalam kehidupannya. Orang yang beriman, keimananya akan melahirkan sikap optimis karena ia yakin bahwa apa yang ada dalam genggaman ilahi jauh lebih dapat diandalkan dari pada apa yang ada didalam genggamannya. Boleh saja mengeluh apalagi jika ditunjukan kepada Allah sambil berusaha, saat itu keluhan menjadi tanda optimisme.
2.      Akhlak Kepada Mahluk           
Ketika manusia menghadap mahluk Allah SWT maka posisi manusia disini adalah  sebagai khalifah Allah di muka bumi ini, banyak cara yang dilakukan manusia untuk berinteraksi dengan mahluk sesama manusia.Berkaitan dengan arah akhlak terhadap sesama mahluk, manusia diarahkan untuk senantiasa memiliki akhlak yang baik terhadap sesama manusia. Akhlak ini tidak semerta- merta tumbuh dalam hati manusia tetapi akhlak ini tumbuh melalui pendidikan. Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul didalam masyarakat. Kesusilaan/moral selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat. Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendiri–sendiri dan terpisah satu sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling membutuhkan dan saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut masyarakat.
Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan norma- norma kesusilaan yang berlaku. Selain itu dalam hal akhlak kepada sesame manhluk manusia juga harus memiliki sikap yang baik seperti menyambung tali persaudaraan, memberi sesuatu kepada orang yang enggan memberi, memaafkan orang yang membuat kesalahan. Selain itu kita juga wajib dan dianjurkan untuk berbakti kepada orang tua, menyambung tali kerabat, berbuat baik kepada tetangga, berbuat baik kepada anak-anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, dan bersikap lembut kepada sahaya.
Perbuatan baik kepada sesama mahluk telah dicontohkan oleh rasul, hal ini terdapat dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu seorang sahabat yang mulia menyatakan : “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik budi pekertinya.” (HR.Bukhari dan Muslim). Dalam hadits lain anas memuji beliau shalallahu ‘alahi wasallam : “Belum pernah saya menyentuh sutra yang tebal atau tipis lebih halus dari tangan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Saya juga belum pernah mencium bau yang lebih wangi dari bau rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Selama sepuluh tahun saya melayani rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, belum pernah saya dibentak atau ditegur perbuatan saya : mengapa engkau berbuat ini ? atau mengapa engkau tidak mengerjakan itu ?” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari hadits diatas tergambar betapa mulianya akhlak yang dicontohkan oleh nabi Muhammad, maka sepantasnya lah manusia menjalankan sunah rasul yang  mulia demi terwujudnya perilaku yang aman dan damai sesuai dengan syariat islam. Kekuatan akhlak lahir melalui proses panjang yang memerlukan kesediaan untuk sentiasa memberi komitmen dengan nilai-nilai Islam. Seorang ulama menjelaskan thariqah (jalan) untuk membina akhlak islami adalah dengan kemahuan untuk melaksanakan latihan (tadribat) dan pendidikan (tarbiyah). Setiap muslim memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi baik atau buruk, masalahnya adalah sejauh mana usaha kita untuk mendisiplinkan diri dengan nilai-nilai dan amalan Islam bagi melahirkan muslim yang berakhlak ampuh. Malangnya keampuhan akhlak inilah yang sering dilupakan. Malah kian rapuh sehingga hilangnya jatidiri muslim hakiki. Justru menjadi puncak lunturnya sinar Islam pada penghujung zaman. Gejala keruntuhan akhlak yang berlegar di sekeliling kita seperti zina hati, mata, lisan dan seumpamanya meruntun jiwa kita selaku pendokong agama. Keruntuhan yang tidak dikawal pada satu tahap yang minimal membawa manusia untuk menuruti hawa nafsu, dan melupakan tuhan maha Pencipta Yang Maha Esa.
Jadi dapat dipahami bahwa akhlak yang paling baik memiliki keutamaan yang tinggi. Karena itu sudah sepantasnya setiap muslimah mengambil akhlak yang baik sebagai perhiasannya. Yang perlu diingat bahwa ukuran baik atau buruk suatu akhlak bukan ditimbang menurut selera individu, bukan pula hitam putih akhlak itu menurut ukuran adat yang dibuat manusia. Karena boleh jadi, yang dianggap baik oleh adat bernilai jelek menurut timbangan syari’at atau sebaliknya.
A.    Akhlak Terhadap Manusia
  1. Akhlak Terhadap Diri Sendiri
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”(Al- Isra ayat 7)
Ø  Kerja keras, memaksimalkan kemampuan diri untuk mencapai suatu tujuan.
Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmusesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan.(Al-An’am:135)
Ø  Hemat, berarti hidup sederhana, teliti menggunakan sesuatu sesuai dengan kebutuhannya. Nabi bersabda “tempat yang jelek yang suka diisi manusia adalah perut yang terlalu penuh”.
  1. Akhlak Terhadap Diri Orang Lain
QS.An-Nisa 4:86
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)[327]. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.”
Ø  Akhlak Terhadap Orang Tua
Orang tua yakni ibu dan bapak, atau walidain, abawain. Pembicaraan akhlak tentang orang tua ini dibatasi kepada tanggung jawab orang tua, kewajiban anak, dan realisasi berbuat baik.
§  Tanggungjawab orang tua
Ibu dan bapak berperan sebagai orang tua. Mereka memainkan perannya itu denhgan membesarkan anak-anaknya hingga mencapai kedewasaan. Membesarkan anak itu merupakan tanggung jawab sebgsi orang tua.
Tangggung jawab yang kompleks itu terbagi dalam 2 hal:
o   Tanggungjawab yang bersifat materi
o   Tangggungjawab bersifat non materi

§  Kewajiban anak
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”(Al-Isra’ 17:23)
Ø  Akhlak Terhadap Saudara
Saudara dalam hal ini adalah saudara kandung, kakak,adik, paman, bibi merke sering disebut dengan zawil qurba atau zawil arham, tentang ini ada dua hal yakni bersilaturahmi atau mempererat tali persaudaraan, yang kedua yaitu memberi bantuan,kerabat berada dalam posisi yang kedua dalam hal berinfak.
Ø  Akhlak terhadap tetangga
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh[294], dan teman sejawat, ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,”(An-Nisa ayat 36)
Ø  Akhlak sesama muslim
Pada hakikatnya muslim itu saling menyelamatkan antar sesamanya, ada ikatan keluarga sesame muslim dan tidak saling mengganggu antar mereka. Nabi Muhammad SAW bersabda:
muslim itu adalah orang yang tidak perrnah mengganggu sesamanya dengan ucapan maupun dengan tindakannya(H.R Mutafak alaih)
Akhlak terhadap sesama muslim diantaranya adalah:
§  Setia kawan
§  Menunaikan hak-haknya
Ø  Akhlak terhadap kaum lemah
Rasulullah bersabda:
sesungguhnya Allah memfardukan atas orang-orang kaya muslim, sekedar dalam hartanya sehingga menutupi kebutuhan kaum fakir miskin. Kemelaratan orang-orang  miskin adalah karena ulah orang-orang kaya dikalangan mereka ingatlah, Allah akan menghisab mereka dengan hisaban yang keras dan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih”(hadits dari Ali bin Abi Thalib)
B.     Akhlak Terhadap Non Manusia
  1. Memelihara Kelestarian Alam
QS.Ar-Rum ayat 41:
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
  1. Menyayangi hewan
QS. An-Nahl ayat 5-9
Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. . Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal[820] dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).
  1. Merawat Tumbuhan
Lingkungan alam yang subur merupakan karunia dari Allah SWT sehingga keasriannya dapat memberikan rasa senang. Dengan demikian perawatan yang baik terhadap plora akan sangat berguna untuk kehidupan manusia. Gerakan reboisasi tanaman dan pelestarian lingkungan akan sangat memberikan pengaruh besar bagi kelestarian bumi yang kita huni.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar